Translate

Senin, Agustus 30, 2010

Test

Test blogger by android
Published with Blogger-droid v1.5.5.2

Rabu, Desember 09, 2009

Doa untuk Sekeranjang Tempe

Monday, 07 July 2008

Kafemuslimah.com

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe .

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ..."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..." "Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna. Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.
Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al Baqarah 216)

Selasa, Desember 08, 2009

Surah Al Maa'un Ayat satu, Kita-kah ?

Diantara rintik hujan yang mengantar senja ke tempat peristirahatannya , semilir angin berhembus menerpa wajah-wajah letih di jalanan membuat orang enggan untuk keluar rumah. Genangan-genangan air mulai muncul di jalan-jalan beraspal yang tidak lama lagi akan memantulkan cahaya lampu-lampu jalan menandakan malam segera datang. Disudut jalan seorang anak kecil masih asyik memainkan mobil-mobilan bekas yang di perolehnya tadi siang dari tempat sampah. Ibunya masih tertidur disampingnya, atap-atap lebar rumah dan lebatnya pohon melindungi mereka dari sapuan air hujan, di sudut lain tampak beberapa pengemis dan pemulung juga mulai merebahkan diri. " Allahu Akbar...Allahu Akbar" kumandang adzan maghrib terdengar saling bersautan dari corong-corong spiker masjid, suarayang mengajak orang menemui Sang khaliq penciptanya.

" Bu..bu..itu udah adzan mau sholat gak?" teriak anaknya membangunkan sang ibu, tapi ibunya masih terus tertidur. Anak itu diam , lalu kemudian meneruskan bermain mobil-mobilan. Setelah hampir setengah jam asyik bermain , anak tersebut kembali membangunkan ibunya " Bu....bu..., ...ibu gak sholat...... bangun dong bu.....angga lapar nih !!" teriak anaknya, tapi ibunya masih tetap tertidur, tidak bergeming sedikitpun. Karena keletihan membangunkan ibunya tetapi tidak ada hasil anak itu kemudian tertidur disamping ibunya. Anak itu berusia lima tahun dengan badan kurus dan lusuh, sedangkan ibunya berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah kurus pucat seperti orang sakit keras. Tidak beberapa lama adzan Isya berkumandang. Hujan semakin deras, jalanan tampak sepi, Anak itu terbangun sambil meringis karena merasa lapar. Dia bangun lalu berlari kearah masjid di seberang jalan, kemudian menengadahkan tangan kepada jama'ah masjid yang hendak melaksanakan sholat. Anak itu telah terbiasa mengemis di depan masjid dan di persimpangan jalan, tetapi malam itu tidak satupun jama'ah yang memberikannya uang. Dia terus meringis menahan sakit perut yang belum terisi sejak pagi karena ketika siang hari ibu nya muntah-muntah lalu kemudian tidur dan belum bangun sampai malam itu.

" Aro'aitalladzi yukajjibu biddin, fadza likalladzi ya du'uul yatim wa la yaa khuddu 'alaa thoo 'amil miskin" terdengar suara imam membaca surat Al Maa'un dari dalam masjid tentang para pendusta agama. Semua jama'ah hafal ayat itu tapi sama seperti nasib anak di luar masjid itu surah Al Maa'un tersebut terlantar di sudut ingatan. " Iqra !" kata malaikat jibril kepada Muhammad SAW, tidak ada kitab disana , Rasulullah SAW pun tidak bisa membaca, lalu apa yang mesti di baca ? " Iqra bismirabbikalladzi khalaq" bacalah dengan menyebut nama Tuhan Sang Maha Pencipta, surah itu seperti berteriak kepada kita "bacalah sekelilingmu, bacalah keadaan lingkunganmu, baca dan berkacalah pada alam semesta dan tunjukan kepedulianmu" dan kita hanya tertunduk sambil terus membolak-balik kitab suci.

Anak itu belari kembali kepada ibunya sambil menangis menahan sakit, tubuhnya basah oleh air hujan, air yang bagi mahluk lain menjadi rahmat, tetapi baginya menjadi seperti sapaan Tuhan terakhir kepadanya, dia tertidur sambil memegang perut didada ibunya. Kedua ibu dan anak itu pada pagi harinya di ketemukan warga telah meninggal dunia, meninggalkan derita yang dideranya , meninggalkan para pendusta agama yang tidak pernah mau menyapanya.

Ketika malam nanti hujan menghampiri kita, disaat kita berkumpul bersama keluarga dan merasakan kehangatan, maka sesekali ambillah payung lalu keluar rumahlah, carilah rintihan disudut-sudut jalan, di halte-halte bis , sapalah mereka , redakan ketakutan di hati mereka berbagilah sedikit. Jika kokohnya rumah kita masih membuat takut anak anak kita ketika mendengar halilintar , lalu bagaimana dengan teriakan anak-anak tanpa atap tersebut, siapa tahu senyuman kita mampu mengusir galau dan resah di hati mereka lalu perlahan-lahan bisa melunturkan stempel pendusta agama di kening kita

Minggu, September 06, 2009

Two Hippos in Serengeti, Tansania

Hippos are considered to be a vulnerable species. There are about 125,000 in the wild, down 7-20% from 1996. They are hunted by poachers, especially in the Congo.

Hippos can be very dangerous. They can be nervous wh...en out of water, and often trample people who come between them and their river.

Jumat, Agustus 07, 2009

Yoghurt

Akhirnya setelah lama dipikir-pikir, jadi juga beli alat yoghurt maker. Kenapa musti dipikir-pikir? Pertama, alatnya lumayan mahal dan kedua takutnya gak kepake karena belum bisa rutin konsumsi yoghurt. Tapi setelah berazzam untuk memulai hidup yan lebih sehat, kuputuskan juga beli yoghurt maker.

Kenapa harus yoghurt? Ini setelah aku mencari berbagai referensi tentang yoghurt, baik lewat internet maupun media cetak, semua menyebutkan bahwa yoghurt kaya akan manfaat dan sangat berguna bagi kesehatan kita. Tapi beli yoghurt yang dah jadi agak mahal. Klo cuman beli sebiji sih masih enteng. Nah kalo perlunya konsumsi saban hari....yg enteng tentulah jadi berat diongkos. So, beli yoghurt maker aja, mumpung masih tanggal muda. Berat diawal, tp bisa dipake bertahun2 (kata salesnya nih)

Bikinnya?...wuih...gampang banget. Satu bagian yoghurt biang dicampur 10 bagian susu air plain (yg banyak dijual di pasaran), masukin ke alatnya, setel waktunya...udah..seperti masak nasi pake rice cooker gitu. Ntar klo dah mateng, alarmnya bakalan bunyi. Waktu masaknya sih 8 jam klo mau yoghurtnya kental. Bikin dengan cara manual sih bisa, perbandingan bahan sama, cuman klo manual susu cainya harus direbus dulu sampai suam2 kuku (gak boleh sampai mendidih), trus dicampur biang, masukkan kedalam wadah tertutup semisal tupperware, diselimuti, diletakkan ditempat hangat....tunggu sampai 24 jam. Ribet banget klo pake cara manual.

Klo yoghurt ah jadi, bentuknya akan seperti tauwa gitu., ambil segelas buat biang untuk pembuatan yoghurt berikutnya. Selebihnya bisa kita manfaatkan. Yoghut ini masih berasa plain/asam. So, kalo mau manis ditambah gula cair dulu.Bisa kita campur sama jus buah, bisa kita bikin es lolipop, bikin pudding, buat rendaman sate etc. Yoghurt juga bisa buat creambath, luluran dan masker loh. Tentu saja harus yg masih plain, klo dah ada gulanya ntar dikerubitin semut dong.

Manfaat utamanya ya.....penyedia bakteri baik buat tubuh kita. Dia juga banyak kalsium sehingga bagus buat penderita hipertensi. Bisa mengendalikan kolesterol, bisa menghaluskan kulit, membuat awet muda, bisa melangsingkan, dan...masih banyak lagi. See.....bener2 banyak manfaatnya khan. So, aku pikir keputusanku untuk beli yoghurt maker adalah keputusan yg tepat, setepat aku memutuskan memulai hidup yg lebih sehat dengan konsumsi yoghurt secara rutin.

Kamis, Juli 30, 2009

Tupper 'n Multiply

Awalnya penasaran sama multiply. So, coba2 sign up dan bikin halaman yang sederhana. Belum ada gambaran juga mau diisi apa. Akhirnya cuman diisi donlotan video clip dan lagu. Belum berani majang foto diri juga.

One day...ada yang komen di guest book....and so on..undangan nambah terus. Klik sana, klik� sini...eh...ketemu komunitas penggemar tupperware. Aku gak tau komunitas ini penggemar atau reseler. Nyatanya setiap yg punya produk tupperware pasti nawarin koleksinya ini. Someday dia jual di sitenya...another day dia nawar di site lain. Mungkin begitulah adanya komunitas penggemar tuppeware ini. Aku baru awal �masuk dalam komunitas ini jadi lom paham banget walau gambarannya dah mulai dapat. Sebagian dari mereka now become my contact...gitu yang tertulis di MPku. Nice to know all of you, friends. It's great to know that so many people like tupperware so much just the way i do.�

Finally, dari hasil klik..banyak ketemu barang yang belum kupunya. Sebagai member tupperware yg cuman beli buat kebutuhan ndiri..jelas aku gak pernah dapat barang activity..walau kadang distributorku merelakan barang activitynya dilego ke tanganku. Tapi masih banyak yang aku lom punya. Di MP dan melalui "komunitas penggemar tupperware" (that's the way i call them) inlah aku bisa dapatkan barang2 tersebut. Bahkan barang yang terbitan luar negeri. Senang dan puas sekali rasanya dapat barang baru..apalagi yg rare. Tapi sedihnya.....cukup menguras kantong dengan sangat dalam he he he. Thx banget buat suamiku yang merelakan hobi mahalku ini.

Order pertama sebenarnya kutujukan pada 2 site, dan awalnya berhubungan intens banget. Tapi one of them tiba2 gak ada khabar, dah kucoba hubungi lagi tapi gak ada kepastian. Ya udalah...belum berjodoh mungkin. Tinggal 1 site lagi nih...dah mendekati final transaction. Takut ketipu??? Awalnya ya iyalah, pikiran yang wajar banget khan. Bayangin aja hanya kenal lewat dunia maya, langsung order yg lumayan gede. Tapi setelah diliati bener2 sitenya...liat di review....keknya it's ok, just go on. Aku hanya berpikir...kalo finally aku ketipu berarti uang itu emang bukan hakku dan dengan cara itulah Allah mengambilnya dariku. Aku dah ungkapin ketakutan kecilku ini ke site's owner....hi hi hi...ternyata kami sama2 takut. Yang satu takut ketipu penjual, yang satu takut pembelinya gak serius he he he...skornya 1 sama dong sis!!

So....here we go....ternyata lewat multiplylah pertama kali aku order tupperware by online. Gak sabar nunggu paketan datang nih, buat dikumpulin sama sodara2nya di rumah.

Rabu, Mei 06, 2009

Dua Tetes Air Mata

Surabaya, 6 Mei 2009

Alkisah Ahmad bin Miskin hidup dengan istri dan anaknya yang masih
kecil. Kesusahan menderanya terus menerus. Tak ada pekerjaan yang
dilakukannya. Suatu Malam, setelah seharian tak secuilpun makanan masuk
kedalam perutnya, hatinya gelisah dan tak dapat tidur. Hatinya perih seperti
juga perutnya yang keroncongan. Seperti prajurit yang kalah perang, ia lesu,
lemah lunglai, dan tak ada harapan. Anaknya menangis seharian, karena tak
ada air susu dari istri yang lapar. Sungguh kefakiran ini membuatnya sangat
menderita. Timbul pemikiran darinya untuk menjual rumah yang ditempatinya.

    Esoknya usai sholat subuh berjamaah dan berdoa, ia menemui sahabatnya
Abdullah as sayyad, " wahai Abdullah! bisakah kau pinjamkan aku beberapa
dirham untuk keperluan hari ini. Aku bermaksud menjual rumahku. Nanti
setelah laku akan kuganti," kata Ahmad.

    "Wahai Ahmad... ambillah bungkusan ini untuk keluargamu dan pulanglah !
Nanti aku akan menyusul kerumahmu membawakan semua kebutuhanmu itu," jawab
Abdullah cepat. Maka Ahmad pun pulang ke rumah sambil terus merenung untuk
menjual rumahnya. Sungguh sakit kalau harus menjual rumah satu satunya,
sekedar untuk makan." Setelah itu saya akan tinggal dimana?" renung Ahmad.

    Ahmad segera memantapkan langkahnya. Kini ia membawa bungkusan makanan
untuk keluarganya. Tentu istrinya akan gembira dan anaknya akan tertawa lucu
setelah memperoleh air susu." Terasa nikmat roti yang dibungkus ini
tentunya. Sahabat Abdullah memang sangat dermawan, sahabat sejatiku." desah
Ahmad.

    Belum sampai setengah perjalanan, tiba tiba seorang wanita dengan bayi
dalam gendongannya menatap iba. "Tuan, berilah kami makanan. Anak ini anak
yatim yang kelaparan, tolonglah. Semoga Allah SWT merahmati Tuan." ratap ibu
itu.

    Iba rasa hati Ahmad. Ditatapnya bayi yang digendong wanita itu. Tampak
wajah yang layu, pucat kelaparan. Sungguh memelas, tak mampu Ahmad
memandangnya lama lama. Dibandingkan dengan keluargaku, mungkin ibu dan anak ini lebih membutuhkan. " Biarlah aku akan mencari makanan yang lain untuk
keluargaku. " Ahmad membatin. "Ini ambillah ibu... aku tak punya yang lain,
semoga dapat meringankan bebannya.. Kalau saja aku punya yang lain, mungkin
aku dapat membantumu lebih banyak, ' kata Ahmad sambil menyerahkan bungkusan yang sama sekali belum disentuhnya.

    Dua tetes air mata jatuh dari mata sang ibu, " terima kasih banyak tuan.
Semoga Allah membalas budi baik Tuan dengan balasan yang besar, "si ibu
berterima kasih dan menunduk hormat. Maka Ahmad pun meneruskan perjalanan.

    Ia beristirahat bersandar di batang pohon sambil merenungi nasibnya.
namun ia kembali ingat bahwa sahabatnya Abdullah berjanji akan membawa
keperluannya. Dan Abdullah tak ingkar janji sekalipun. Maka bergegas ia
pulang dan di tengah jalan ia bertemu dengan Abdullah.

    "Wahai Ahmad kemana saja engkau ?," tegur Abdullah tersengal sengal."
Aku mencarimu ke sana kemari. Aku datang ke rumahmu membawa keperluanmu.
namun di tengah jalan aku bertemu dengan seorang saudagar dengan beberapa
onta bermuatan penuh, Dia ingin bertemu ayahmu. Dia bilang ayahmu pernah
memberinya pinjaman 30 tahun yang lalu. Setelah jatuh bangun berdagang,
sekarang ia telah menjadi saudagar besar di Basrah. Kini ia ingin
mengembalikan uang pinjamannya keuntungan serta hadiah hadiah, jelas
Abdullah. Sekarang pulanglah, tak perlu kau jual rumah. Harta yang banyak
menunggumu, " kata Abdullah.

    Kaget bukan kepalang Ahmad mendengar perkataan tersebut. " Benarkah
Abdullah ?" tanya Ahmad ragu ragu. Maka iapun berlari pulang kerumahnya. Dan
benar, singkat cerita akhirnya Ahmad menjadi orang kaya di kotanya. Namun ia
adalah orang kaya yang baik.

    Ahmad gemar berbuat kebajikan, apalagi kepada sahabatnya Abdullah. Pada
suatu malam ia bermimpi. Sepertinya semua amalnya bakal dihisap oleh para
malaikat. maka pertama tama, dosa dan kesalahannya ditimbang. Wajahnya
pucat.  Betapa berat dosa dosa yang dimilikinya. " Apakah amal kebaikan yang
telah ia lakukan dapat melebihi dosa dosa itu?..." Ahmad membatin.

    Perlahan lahan amal kebaikannya ditimbang. Pahala berderma dengan lima
ribu dirham hanya ringan ringan saja. kata malaikat karena harus dipotong
oleh kesombongan dan riya. Demikian seterusnya. Ternyata seluruh amalannya
tetap tidak bisa mengimbangi beratnya dosa yang ia lakukan. Ahmad menangis.

    Para malaikat bertanya, " Masih adakah amal yang belum ditimbang!" Masih
ada. "kata malaikat yang lain." Masih ada, yakni dua amal baik lagi."

    Ternyata salah satunya adalah roti yang diberikan kepada anak yatim dan
ibunya. Makin pucatlah wajah Ahmad." Mana mungkin amalan itu dapat
menyeimbangkan dosanya yang berat," keluhnya. Malaikat pun sibuk menimbang
roti itu. Namun ketika ditimbang ternyata timbangan langsung terangkat.
Betapa beratnya bobot amalan itu. Kini timbangan Ahmad tepat seimbang.
Wajahnya sedikit tenang. Ia gembira. Sungguh diluar dugaannya.

    "Namun amalan apa lagi yang tersisa ? karena ini masih seimbang."
katanya dalam hati.

    Para malaikat pun mendatangkan dua tetes air mata syukur dan terharu ibu
anak yatim atas pertolongan Ahmad. Ahmad tak menyangka kalau tetes air mata
ibu anak yatim dinilai sebagai pahala untuknya. Ia bersyukur. Para malaikat
pun menimbang tetes air mata. Namun tiba tiba dua tetes air mata itu berubah
menjadi air bah bergelombang dan meluas bak lautan. Lalu dari dalamnya
muncul ikan besar. Kemudian malaikat menangkap dan menimbang ikan itu yang
disetarakan dengan amal baik Ahmad.

    Ketika ikan menyentuh timbangan, maka seperti bobot yang sangat berat,
timbangan pun segera condong ke arah kebaikan." Dia selamat.... dia selamat"
terdengar teriakan malaikat. Gembiralah hati Ahmad.

    " Sekiranya aku mementingkan diri dan keluarga sendiri, maka takkan ada
berat roti dan ikan itu." Ahmad termenung gembira. Anak yatim dan ibunya itu
yang telah menyelamatkan dirinya. Pada saat itu pula Ahmad terbangun dari
mimpi. Amal yang ikhlas di tengah kesempitan, bernilai tinggi di mata Allah
SWT.

Firman Allah SWT :
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat
amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak
diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka
sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) (QS. 6 : 160)

(Dari buku : Kisah kisah Teladan untuk keluarga : Dr.Mulyono)

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan,
 sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.
 Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu,
 sungguh, Allah Maha Mengetahui"
 (QS. Ali 'Imran : 92)

Lain syakartum la azi danakum
wa la in kafartum inna azabi lasyadid